KUPANG, Suara radio terdengar cukup keras ketika memasuki pelataran Kantor Radio Republik Indonesia (RRI) Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kompas.com/Sigiranus Marutho Bere :Dua orang karyawan RRI Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) sedang berdiri di depan pohon beringin yang menjadi tempat ditaruhnya radio dan tulisan bukan pohon yang bicara tapi RRI Kupang yang mengudara

Suara tersebut tentu akan membuat penasaran bagi setiap pengunjung atau orang yang baru pertama kali masuk ke tempat itu. Usut punya usut, ternyata suara itu berasal dari sebuah beringin tua yang batangnya telah dicat dengan warna khas RRI yakni biru dan putih.

Di tengah dahan beringin itu, terdapat sebuah kotak kecil yang di dalamnya tersimpan satu unit radio berwarna hitam berukuran sedang. Di bawah kotak itu, melekat terminal (colokan) listrik yang dipakai untuk penghantar arus listrik ke radio dan lampu penerang yang dililitkan di sekeliling ranting pohon beringin.

Di atas kotak itu, terdapat sebuah papan kecil yang bertuliskan “bukan pohon yang bicara tapi RRI Kupang yang mengudara. Selain itu, ada pula sebuah papan kecil persis di bawah kotak yang bertuliskan sekali di udara tetap di udara.

Kondisi itu bisa membuat orang atau pengunjung serta karyawan RRI akan betah dan berlama-lama berada di bawah pohon beringin yang memang rindang dan sejuk, sembari mendengar musik dan siaran dari radio.

Kepala LPP RRI Kupang Enderiman Butar Butar ketika ditemuiKompas.com di ruang kerjanya Rabu (28/9/2016) mengatakan, ia bersama karyawannya ingin menampilkan sesuatu yang unik sehingga pohon beringin itu ditata dengan cara yang unik pula yang bernuansa radio.

Pohon itu mulai ditata sejak tahun 2014 lalu.

“Ada dua latar belakang kenapa itu bisa kita lakukan, karena setiap nara sumber kita datang mengikuti siaran di radio, sopirnya itu menunggu di bawah pohon beringin. Karena di situ sangat rindang dan sejuk sehingga mereka duduk dan santai sambil mendengar radio untuk bisa tahu kapan acara yang diikuti oleh bosnya itu sudah selesai atau belum,” terangnya.

Selain itu, sebut dia, alasan lainnya adalah untuk menjadi alat kontrol buat petugas satuan pengamanan (satpam) RRI. Bila radio itu tidak berbunyi maka tentu ada bermasalah.

Menurut Enderiman, pihaknya membuat radio yang menyatu dengan pohonnya karena menjadi kontrol bagi siapapun yang berada di sekitar pelataran RRI, karena radio tersebut selalu hidup 24 jam.

“Setiap orang yang melintas di depan pohon ini pasti akan tertarik dengan bahasa yang ditulis itu. Orang akan penasaran di mana radio tersebut, karena kita sembunyikan di tengah pohon. Kita sembunyikan radionya supaya orang cari di mana suara radio tersebut yang volumenya tinggi itu,” jelasnya.

“Respons dari warga yang datang dan melihat pasti kaget dan penasaran, bahkan ada yang sampai pegang-pegang pohon karena radio itu disembunyikan di dalam dan kita tutupi supaya radionya tidak kena hujan. Ada pendengar yang khusus duduk di situ untuk mau mendengar namanya disebut. Dengan adanya itu membuat rasa penasaran dan unik,”sambungnya.

Enderiman juga mengaku, pohon beringin dan radio itu pernah juga mendapat perhatian dari sejumlah anggota DPR RI dari Komisi I yang bertandang ke RRI Kupang.

Dia menyebutkan, sebelumnya RRI Kupang disebut sebagai RRI terkumuh dan masih tipe C. Namun setelah ia menjadi kepala RRI Kupang tahun 2013 lalu, dirinya menata dan membuat kantor itu menjadi rapi sehingga saat ini status RRI Kupang naik menjadi tipe B.

“Saya kemudian memotivasi semua karyawan untuk menciptakan hal yang positif, kreatif dan inovatif sehingga apa yang menjadi harapan kita bisa terwujud dengan baik,” ujarnya.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations