GENEVA, PBB, Selasa (18/10/2016), memuji pasukan Rusia dan AU Suriah yang menghentikan sementara serangan udara terhadap kota Aleppo.
Reuters/Getty Images - Sebagian wajah kota Aleppo, ibu kota Provinsi Aleppo, yang sekaligus kota terbesar kedua di Suriah, compang-camping akibat perang saudara yang telah berjalan sejak Maret 2011.

Namun, PBB menegaskan, tidak akan masuk dan mengirim bantuan ke kota yang hancur itu jika kedua pihak yang bertikai tak memberikan jaminan keamanan.

"Kami sangat senang telah disepakati pengurangan kekerasan, karena situasi ini akan melindungi warga sipil," kata Jens Laerke, juru bicara badan kemanusiaan PBB.

Namun, Jens menekankan, bahwa PBB menginginkan semua senjata berhenti menembak sehingga bantuan kemanusiaan bisa masuk ke wilayah konflik sehingga mereka yang sakit atau terluka bisa dievakuasi.

"Kami membutuhkan jaminan dari semua pihak yang bertikai. Bukan sekadar pengumuman unilateral bahwa ada jaminan keamanan," tambah Jens tanpa menjelaskan apalah PBB sudah mendapat jaminan dari pihak bertikai.

Komentar Jens Laerke ini muncul setelah Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu mengumumkan penghentian pengeboman di Aleppo mulai pukul 07.00 GMT atau pukul 14.00 WIB.

Langkah ini, lanjut Shoigu, diambil untuk memuluskan jalan menuju gencatan senjata selama delapan jam yang akan diberlakukan pada Kamis (20/10/2016).

Shoigo menambahkan, jeda kemanusiaan itu memungkinkan warga sipil meninggalkan Aleppo lewat enam koridor yang disediakan dan bisa digunakan untuk mengevakuasi warga yang sakit atau terluka keluar dari Aleppo Timur.

PBB dan Uni Eropa menyambut baik pengumuman itu tetapi menginginkan jeda lebih lama agar bantuan kemanusiaan bisa diantarkan ke Aleppo.

"Kami terus menyerukan jeda kemanusiaan selama 48 jam," tambah Jens.

"PBB berencana untuk mengevakuasi warga yang sakit atau luka dari Aleppo timur, tetapi belum bernegosiasi terkait rencana Rusia ini," lanjut dia.

"Pemindahan warga sipil harus bisa dilaksanakan dengan aman, bermartabat dan didasarkan pada kerelaan serta tak dicampuraduk dengna rencana PBB mengevakuasi warga yang luka," kata Jens.

Aleppo, yang pernah menjadi kota dagang Suriah, kini hancur lebur akibat perang berkepanjangan antara pasukan pemerintah dan para pemberontak.

sumber: Kompas.com

YOUR REACTION?

Facebook Conversations