Meski masa kampanye belum mulai, para kandidat sudah saling menyerang. Ahok, sapaan Basuki, dan pasangan Anies-Sandiaga belakangan cukup gencar berbalas sindiran soal kondisi Jakarta saat ini dan kinerja incumbent.
Cagub-Cawagub DKI Jakarta. ©2016 merdeka.com

Bukan hanya ramai soal sindiran, lembaga survei mulai melansir hasil penelitian mereka soal popularitas dan elektabilitas ketiga pasangan tersebut. Kemarin, Lingkaran Survei Indonesia (LSI) memaparkan hasil penelitian dengan metode multistage random sampling terhadap 440 responden sejak 22 September hingga 2 Oktober 2016.

Hasil survei LSI menyebut elektabilitas pasangan Ahok dan Djarot kian menurun. Jika Maret silam mencapai 59,3 persen, namun pada Oktober turun menjadi 31,4 persen.

"Survei Maret 2016 elektabilitas Ahok mencapai 59,3 persen. Tapi pada survei Oktober 2016 elektabilitas Ahok turun jadi 31,4 persen," kata Tim peneliti LSI, Adjie Alfaraby, di Kantor LSI, Jakarta, Selasa (4/10).

Survei tersebut juga menyebut daya tarik Ahok di mata warga Jakarta ikut merosot. Jika Maret 2016, kesukaan masyarakat Jakarta terhadap gaya kepemimpinan Ahok mencapai 71,3 persen. Namun pada survei Oktober 2016 kesukaan masyarakat terhadap Ahok menjadi 58,2 persen.

Menurut Adjie, ada beberapa alasan yang menyebabkan popularitas dan elektabilitas Ahok kain menurun. Seperti isu kebijakan perihal penggusuran kebijakan reklamasi teluk Jakarta, termasuk karakter Ahok yang kasar dan arogan.

"Selain itu karena ada alternatif cagub yang fresh yaitu Anies Baswedan dan Agus Harimurti Yudhoyono," tambahnya.

Selain itu, suara Ahok-Djarot lebih banyak datang pemilih lulusan SD atau di bawahnya. Hal itu berbanding terbalik dengan pasangan Anies-Sandi yang lebih banyak dipilih kalangan berpendidikan.

"Posisi terakhir, pasangan bakal calon Basuki Tjahaja Purnama - Djarot Syaiful Hidayat dengan perolehan suara 13,3 persen. Sementara 31,2 persen warga yang berpendidikan tinggi memilih Anies-Sandi," sambungnya.

Hal itu, katanya, menjadi warning buat pasangan Ahok-Djarot karena berpotensi kalah di Pilgub DKI meski akan berlangsung dua putaran.

"Ahok potensi kalah jika dukungan atas dirinya terus menurun. Sementara tingkat pengenalan atas Ahok sudah di puncak," jelas Adjie.

Sebaliknya, pasangan Anies-Sandi dan Agus-Sylvi justru berpeluang unggul di Pilgub DKI 2017 mendatang.

"Anies dan Agus potensial untuk mengejar karena tingkat pengenalan atas mereka masih belum maksimal dan mungkin naik," ujar dia.

Kendati begitu, lanjut Adjie, potensi Ahok-Djarot untuk memenangkan kembali Pilkada DKI masih terbuka lebar. Hanya saja, Ahok-Djarot harus melakukan gebrakan baru untuk menghilangkan sentimen masyarakat terhadap cara kepemimpinannya.

"Ahok tetap bisa menang, jika melakukan gebrakan baru dan mengurangi sentimen antiAhok yang kian meluas," pungkasnya.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations