Oleh: Dedy Dahlan - Saat kuliah dulu, saya adalah seseorang yang lugu dan pemalu.

1. Mengubah Kekurangan Menjadi Kelebihan

Mengubah Kekurangan Menjadi Kelebihan illustrasi - Shutterstock

Tapi itu bukan berarti saya nggak suka ngoceh. Entah sejak kapan, saya punya kebiasaan ngoceh alami untuk celepas celepos ke sana dan sini, dan mencoba ngelucu dengan joke- joke yang FENOMENAL banget nggak lucunya.

Ada satu kejadian yang saya ingat sampai sekarang. Seorang teman cewek yang waktu itu jadi korban saya pas kerja kelompok, karena sudah membumbung tinggi eneknya mendengar saya ngoceh, sampai meletakkan pensil di tangannya, menoleh ke arah saya, dan dengan tampang ‘annoyed’ banget, ngomong, “Bawel banget sih lu Ded, kayak cewek aja”.

2. Saat itu, saya pikir ‘bawel dan banyak omong kayak cewek’ adalah KELEMAHAN saya.

Selama beberapa saat, saya mencoba untuk mengurangi ‘kelemahan’ saya ini dengan tidak terlalu banyak berbicara dan menjadi petapa anti ngoceh.

Banyak diam saat rapat.
Banyak diam saat pesta.
Banyak diam saat diminta berbicara di depan.
Banyak diam saat pacaran, apalagi pas giliran bayar tagihan. Ehm…

Dan sebagai akibatnya? Studi, karir, dan bisnis saya malahan nyangkut, dan sayapun jadinya tidak enjoy dalam semua hal yang saya lakukan!

‘Kelemahan’ saya, ngoceh, adalah bagian dari diri saya, yang tidak bisa dihilangkan atau dilupakan begitu saja. Jadi saya kembali menghadapi ‘kelemahan’ saya itu, dan mengubahnya menjadi KELEBIHAN. Dari ‘ngoceh’, jadi skill ‘Public Speaking’!

Belasan tahun setelah kejadian itu, ‘ngoceh’, atau ‘banyak omong’, adalah salah satu profesi saya sebagai coach, pembicara, dan trainer!

3. MBTI: Bukan Suatu Kelemahan, Hanya Perbedaan!

Kini, sebagai coach yang juga praktisi tersertifikasi dalam MBTI(Myers- Briggs Type Indicator) dari CPP Asia Pacifik, saya paham betul tentang perbedaan- perbedaan dan POTENSI berbeda dalam setiap individu, yang bahkan saya pakai sebagai dasar training Team Dynamic untuk berbagai perusahaan!

Inti perbedaan-perbedaan antara satu orang lain dengan orang lainnya, yang mungkin nampak seperti kelemahan di mata orang lain, justru adalah, atau sebenarnya bisa menjadi KELEBIHAN Anda!

Menurut MBTI yang didasarkan berdasarkan teori personality olehCarl Jung, setiap orang terlahir dengan preferensi berbeda, dan preferensi yang terbentuk dari nature (alami), atau nurture (didikan/ pengaruh lingkungan) ini pada akhirnya menentukan gaya kerja, preferensi personality, bahkan potensi kita!

Dan intinya, setiap tipe ini memiliki kekurangan kelebihannya sendiri- sendiri, tapi TIDAK ADA tipe yang ‘unggul’ secara umum dibandingkan tipe lainnya!

Memahami bahwa setiap orang berbeda, dan memahami bagaimana diri Anda berbeda, adalah langkah pertama dalam mulai mengubah ‘kelemahan’ Anda menjadi kelebihan!

Secara sederhana, ada empat dikotomi dalam MBTI.

4. Dikotomi 1: Ekstrovert dan Introvert

Seseorang bisa berbeda dalam caranya mendapatkan energi, dan bagaimana ia memusatkan perhatiannya. Artinya, seseorang yang cenderung ekstrovert prefer mendapatkan energinya dari ‘sumber luar’ dirinya, seperti orang lain, atau tindakan fisik. Sementara seseorang yang cenderung introvert, mengumpulkan energinya dari dalam dirinya, seperti merenung, berpikir, dan refleksi diri.

Dampaknya, seorang ekstrovert akan cenderung supel, suka banyak bicara, suka mencari perhatian, dan ekspresif. Sementara seorang introvert tampak diam, senang aktivitas pribadi, dan senang ‘me moment’ yang tenang.

Dari mata introvert, ‘banyak ngoceh’ adalah salah satu kelemahan seorang ekstrovert, dan dari mata ekstrovert, terlalu diam dan kebanyakan mikir, adalah kelemahan seorang introvert.

Tips Memperkuat Kelebihan: Seorang ekstrovert perlu mencari profesi dan posisi yang dia banyak bertemu dengan banyak orang, tempat dia bisa mengekspresikan dirinya, dan bertindak langsung secara fisik. Sementara seorang introvert perlu memberikan dirinya posisi dan situasi kerja dia bisa dengan tenang bekerja tanpa banyak gangguan luar, dan memanfaatkan kemampuan refleksi dirinya dengan optimal, seperti menulis.



YOUR REACTION?

Facebook Conversations